TOLONG BUATIN NASKAH DRAMA TENTANG PAHLAWAN UNTUK 5 ORANG
PPKn
rimanl7499
Pertanyaan
TOLONG BUATIN NASKAH DRAMA TENTANG PAHLAWAN UNTUK 5 ORANG
1 Jawaban
-
1. Jawaban lutfifauzi458p5zl4i
Anggira: “Mit, Von, rajin sekali kalian berdua!”
Jenitama: “Iya lah, tugas kita sebagai pelajar kan memang harus belajar. Hehehe…”
Anggira: “Iya juga sih. Eh Oya kalian tahu tidak, ada siswa baru yang akan masuk ke kelas kita hari ini.”
Voni: “Oh ya, siapa namanya? Lelaki atau perempuan?”
Anggira: “Lelaki, tapi aku juga belum tahu siapa namanya dan seperti apa rupanya.”
[Bel sekolah berbunyi]
Jenitama: “Eh ayo masuk kelas!”
[Ketiganya memasuki ruang kelas. Bu Guru masuk bersama seorang siswa baru.]
Bu Guru: “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru dari Sulawesi, ia akan menjadi teman sekelas kalian. Silakan perkenalkan dirimu, nak!”
Wantara
Wantara: “Selamat pagi, sahabatku. Nama saya Muhammad Wantara. Saya berasal dari Sulawesi.”
Jenitama [berbisik pada Anggira]: “Jauh sekali ya, dari Sulawesi pindah ke Bandung!”
[Anggira hanya mengangguk petanda setuju]
Bu Guru: “Wantara, kamu duduk di belakang Voni ya [menunjuk sebuah meja kosong]. Untuk sementara kamu duduk sendiri dahulu karena jumlah siswa di kelas ini ganjil.”
[Wantara segera duduk di kursi yang disediakan]
Bu Guru: “Ya baiklah, sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku kalian di halaman 48….”
[Pelajaran pun dimulai]
Tiba saatnya jam istirahat. Wantara, yang belum memiliki teman, diam saja duduk di kursinya sambil menunduk. Rupanya belum ada yang mau mendekati Wantara. Semua siswa di kelas itu masih sungkan dan hanya mau tersenyum saja padanya tanpa berani mengajak ngobrol lebih lanjut.
Voni: “Psst, Mit, Nggi, coba lihat anak baru itu, sendirian saja ya!” [berbisik pada Jenitama dan Anggira saat mereka baru kembali dari kantin]
Jenitama: “Ayo kita dekati saja.” [Ketiganya menghampiri Wantara]
Anggira: “Hei, Wantara. Kenalkan, aku Anggira, ini Wantara dan Jenitama [menunjuk kedua temannya].”
[Ketiganya duduk di sekeliling Wantara]
Wantara: “Hai, salam kenal.”
Voni: “Kamu kok tidak jajan ke kantin?”
Wantara: “Aku… Aku bawa bekal makanan [pelan sekali, sambil tertunduk].”
Jenitama: “Oh begitu, rajin sekali kamu, Wan!
[Keempat siswa ini mulai terlibat obrolan ringan sehingga Wantara merasa ditemani]
Saat jam pulang sekolah, Bu Guru memAnggiral Anggira dan Voni yang hendak pulang ke rumah.
Bu Guru: “Anggira, Voni! Ke sini sebentar. Ibu mau menanyakan sesuatu.”
[Anggira dan Voni menghampiri Bu Guru]
Voni: “Ada apa, Bu?”
Bu Guru: “Itu, bagaimana perilaku Wantara di kelas? Apakah ia bisa membaur?”
Voni: “Dia agak pendiam, Bu. Dan suka menunduk saat berbicara.”
Anggira: “Tadi di jam istirahat, kami berdua dan Jenitama berusaha mendekatinya. Kami mengobrol cukup lama, ia anak yang baik kok, hanya saja ia seperti agak kurang percaya diri dan muram.”
Bu Guru: “Hmm… begitu ya. Anak-anak, Wantara adalah salah satu korban selamat tragedi tsunami Sulawesi beberapa bulan yang lalu. Kedua orang tuanya tewas terhempas ombak. Kini hanya tinggal ia dan adik perempuannya, Annisa. Annisa masih duduk di kelas 4 SD, di SD V kota kita ini.”
Anggira: “Ya Tuhan, sungguh berat cobaan yang menimpanya…”
Bu Guru: “Iya. Untungnya, seorang pamannya tinggal di Bandung sehingga ia dan adiknya tinggal di sini. Mereka tergolong masyarakat prasejahtera, sehingga Wantara benar-benar harus berhemat. Pamannya berkata pada Ibu tadi pagi, ia tak mampu memberi uang jajan yang cukup untuk Wantara sehingga Wantara harus bekal nasi setiap hari agar tidak lapar di sekolah.”
Voni: “Oh pantas saja tadi jam istirahat ia tidak ke kantin.”
Bu Guru: “Ya sudah, Ibu cuma mau bilang begitu. Kalian berbaik-baiklah dengannya. Temani dia agar tak merasa kesepian dan terus berduka.”
[Anggira dan Voni pamit kemudian pulang]
Di rumahnya, Voni terus menerus memikirkan teman barunya, Wantara. Akhirnya ia mendapatkan suatu ide. Dikabarkannya Anggira dan Jenitama melalui SMS. Keesokan harinya di jam istirahat….
Voni: “Eh, kalian membawa apa yang aku bilang kemarin, kan?”
Jenitama: “Bawa lah. Yuuuk kita dekati Wantara.”
Anggira: “Wantara, bolehkah kami bertiga makan. Maaf kalo salah:)