Sejarah

Pertanyaan

Jelaskan tentang literature cina cheng ho tentang islam dinusantara

1 Jawaban

  • Cheng Ho menjadi “simbol” diplomatisasi dinasti Ming yang  berhasil melakukan hubungan internasional dengan banyak negara, khususnya di seluruh Asia dan Afrika. 

    Buku ini ditulis berdasarkan sudut pandang penulis yang berlatar belakang  budaya Tionghoa. Sumber-sumber literatur yang dipergunakan tidak hanya dari Indonesia saja, tetapi langsung dari negara Cina. Hal tersebut mungkin sedikit “langka” mengingat kebanyakan pakar di Indonesia menulis berdasarkan sumber-sumber literatur lokal Indonesia saja. Dengan banyaknya sunber literatur yang digunakan yaitu dari sumber luar dan lokal, buku ini mempunyai wawasan yang lebih luas, lebih beragam, dan lebih objektif.

    Cheng Ho lahir pada tahun 1371 di Distrik Kunyang, Provinsi Yunnan, Tiongkok yang pada saat itu mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Ia anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya adalah Ma Hazhi, seorang haji yang akhirnya menjadi korban pertempuran pada masa Dinasti Ming yang pada saat itu ingin mempersatukan seluruh Tiongkok. Selama 27 tahun, Cheng Ho telah memimpin tujuh pelayaran termasuk pelayaran ke wilayah nusantara. Ia adalah seorang panglima yang berbakat membawahi puluhan ribu pelaut dalam ekspedisi laut terbesar dalam sejarah China. 

    Menurut hikayat, Cheng Ho tidak hanya berhasil memamerkan keperkasaan militer maritim Dinasti Ming, tetapi juga berhasil menunjukkan keluhuran budaya Cina dan berperan penting menyebarkan agama Islam di daerah-daerah kunjungannya terutama di wilayah Sumatera dan Jawa. Ekspedisi Cheng Ho disebutkan menjadi gelombang ketiga penyebar agama Islam setelah gelombang pedagang asal Gujarat dan pedagang dari wilayah Timur Tengah. Terdapat banyak peninggalan ekspedisi Cheng Ho, peninggalannya yang terkenal adalah bangunan Kelenteng Sam Po Kong di Semarang. 

    Ekspedisi Cheng Ho sangat berperan besar dalam menjaga wilayah perairan dari perompak dan terpenting, persinggahan Cheng Ho di beberapa wilayah nusantara mempunyai andil besar dalam mengenalkan teknologi dan peralatan-peralatan hidup hasil budaya Tiongkok ke masyarakat Nusantara pada masa itu. Akhirnya melalui asimilasi, tanpa disadari budaya Tiongkok telah menyatu dengan unsur budaya lokal Nusantara hingga saat ini.

    Secara umum, buku ini merupakan perbandingan proses Islamisasi di nusantara dengan masuknya unsur Buddhisme di Tiongkok yang sangat lamban. Dijadikan perbandingan karena masuknya Islam di Nusantara terkesan damai dan langsung merambah di berbagai lapisan masyarakat, sedangkan di Tiongkok, masuknya paham baru tidaklah mudah karena pemerintah memegang andil besar dalam menyaring unsur-unsur yang berbeda dengan ideologinya. 

    Dalam penyajiannya, buku ini disusun menjadi dua bagian. Bagian pertama terdiri dari empat bab, diantaranya berisi tentang penjabaran peradaban Tiongkok dan sinisme pihak kekaisaran kepada faham dan ajaran-ajaran baru –termasuk Buddhisme dan Islam- yang masuk ke wilayahnya. Bagian kedua buku ini membahas kontribusi Cheng Ho dalam penyebaran Islam di Asia tenggara. Keberhasilan Cheng Ho dalam menyebarkan agama Islam disebabkan juga keberhasilannya “melokalisasi” Islam di Nusantara.

Pertanyaan Lainnya