kutipan teks biografi dan kepribadian unggul Ebiet G. Ade TOLONG DI JAWAB SEKARANG
Pertanyaan
TOLONG DI JAWAB SEKARANG
1 Jawaban
-
1. Jawaban josuasonakmalel
Teks biografi adalah sebuah teks yang menyajikan kisah perjalanan hidup seorang tokoh yang dianggap mampu menyajikan inspirasi bagi masyarakat secara luas. Sebagai sebuah karya sastra, teks biografi dibangun di atas tiga struktur utama yaitu orientasi, kejadian penting, dan re-orientasi.
Pembahasan
Pada kesempatan ini, soal meminta kita untuk mencari kepribadian unggul dari tokoh Ebiet G Ade berikut kutipan pendukung dari teks biografi beliau. Berikut kakak akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
KEPRIBADIAN UNGGUL
1. MAMPU MANDIRI DALAM MEMILIH SENDIRI JALAN HIDUPNYA
KUTIPAN PENDUKUNG:
Ia lebih memilih bergabung dengan grup vokal ketika ayahnya yang pensiunan memberinya opsi: Ebiet masuk FE UGM atau kakaknya yang baru ujian lulus jadi sarjana di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
2. MAMPU MENCARI SOLUSI DENGAN KREATIF DAN TIDAK MENYERAH PADA TANTANGAN
KUTIPAN PENDUKUNG:
Meski bisa membuat puisi, ia mengaku tidak bisa apabila diminta sekedar mendeklamasikan puisi. Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung itu, Ebiet mencari cara agar tetap bisa membaca puisi dengan cara yang lain, tanpa harus berdeklamasi. Caranya, dengan menggunakan musik.
3. TIDAK PANTANG MENYERAH
KUTIPAN PENDUKUNG:
Setelah berkali-kali ditolak di berbagai perusahaan rekam, akhirnya ia diterima di Jackson Record pada tahun 1979.
4. NASIONALIS
KUTIPAN PENDUKUNG:
Sayang, pada tahun 1990, Ebiet yang “gelisah” dengan Indonesia, akhirnya memilih “bertapa” dari hingar bingar indutri musik dan memilih berdiri di pinggiran saja.
5. SAYANG PADA KELUARGA
KUTIPAN PENDUKUNG:
Album itu sendiri adalah peringatan buat ulang tahun pernikahan ke-25-nya, bersama pula 13 lagu lain yang masih dalam aransemen lama.
6. KRITIS DAN RELIGIUS
KUTIPAN PENDUKUNG
Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih. Lewat lagu-lagunya yang ber-genre balada, pada awal kariernya, ia ‘memotret’ suasana kehidupan Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang cinta, tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana, religius, keluarga, dll.
Sebagai rujukan, berikut kakak sajikan teks biografi beliau.
Terlahir dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far atau Ebit G. Ade di Wanadadi, Banjarnegara 21 April 1954, merupakan anak termuda dari 6 bersaudara, anak Aboe Dja’far, seorang PNS, dan Saodah, seorang pedagang kain. Dulu ia memendam banyak cita-cita, seperti insinyur, dokter, pelukis. Semuanya melenceng, Ebiet malah jadi penyanyi — kendati ia lebih suka disebut penyair karena latar belakangnya di dunia seni yang berawal dari kepenyairan. Setelah lulus SD, Ebiet masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Sayangnya ia tidak betah sehingga pindah ke Yogyakarta.
Sekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan melanjutkan ke SMA Muhammadiyah I. Di sana ia aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). Namun, ia tidak dapat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada karena ketiadaan biaya. Ia lebih memilih bergabung dengan grup vokal ketika ayahnya yang pensiunan memberinya opsi: Ebiet masuk FE UGM atau kakaknya yang baru ujian lulus jadi sarjana di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus bahasa Inggris semasa SMA. Gurunya orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka mengucapkan A menjadi E. Terinspirasi dari tulisan Ebiet di bagian punggung kaos merahnya, lama-lama ia lebih sering dipanggil Ebiet oleh teman-temannya. Nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang, disingkat AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade. Kalau dipanjangkan, ditulis sebagai Ebiet Ghoffar Aboe Dja’far. Sering keluyuran tidak keruan, dulu Ebiet akrab dengan lingkungan seniman muda Yogyakarta pada tahun 1971. Tampaknya, lingkungan inilah yang membentuk persiapan Ebiet untuk mengorbit. Motivasi terbesar yang membangkitkan kreativitas penciptaan karya-karyanya adalah ketika bersahabat dengan Emha Ainun Nadjib (penyair), Eko Tunas (cerpenis), dan E.H. Kartanegara (penulis).
Malioboro menjadi semacam rumah bagi Ebiet ketika kiprah kepenyairannya diolah, karena pada masa itu banyak seniman yang berkumpul di sana. Meski bisa membuat puisi, ia mengaku tidak bisa apabila diminta sekedar mendeklamasikan puisi. Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung itu, Ebiet mencari cara agar tetap bisa
...
Pelajari lebih lanjut
Pada materi ini, kamu dapat belajar tentang teks biografi:
https://brainly.co.id/tugas/9615303
Detil jawaban
Kelas: VIII
Mata pelajaran: Bahasa Indonesia
Bab: Bab 4 - Membaca biografi
Kode kategori: 8.1.4
Kata kunci: kutipan, teks biografi, kepribadian unggul, Ebiet G Ade